Adab yang Terlupakan

REPUBLIKA.CO.ID,

Oleh Erdy Nasrul

Pada 2000 menjelang liburan akhir tahun, Pimpinan Pondok Modern Gontor ketika itu, KH Imam Badri, menasihati lebih dari 4.000 santrinya tentang adab. “Kalau lantai rumah kotor ya disapu. Kamar mandi kotor ya dibersihkan. Jangan merasa asing tinggal di rumah sendiri,” terang dia.

Mantan direktur Kulliyatul Muallimin al-Islamiyah (KMI) Gontor itu kemudian mengingatkan, jangan mentang-mentang liburan, ‎santri bermalas-malasan, hanya tidur, dan tidak beraktivitas. Liburan harus diisi dengan berbagai aktivitas bermanfaat.

Pesan itu selalu disampaikan setiap santri hendak berlibur. Meski beliau sudah wafat sebelas tahun lalu, nasihat tersebut tak lekang oleh waktu.

KH Imam Badri mengajarkan agar santri bertindak wajar ketika berlibur di rumah. Tidur secukupnya. Kalau melihat rumah kotor maka harus dibersihkan.

Inti dari etika atau adab adalah kewajaran. ‎Seseorang akan dinilai tidak pantas atau dipandang sebelah mata bila melakukan hal yang tak wajar. Orang sekitar akan bertindak bila kita melakukan sesuatu yang tak wajar.

Allah pun tak tinggal diam ketika m‎enemukan ketidakwajaran. Di saat manusia berperangai buruk, Allah menurunkan Rasulullah. Tujuannya untuk menyempurnakan akhlak manusia (HR Bukhori).

Mari perhatikan konten media sosial (Medsos) akhir-akhir ini. Banyak akun yang mencaci maki, mengancam akan membunuh sejumlah tokoh, membela orang yang diduga melanggar hukum. Ditambah lagi dengan berita dusta yang dengan mudah dan cepat menyebar. Sungguh fenomena ini jauh dari kewajaran.

Jika ini dibiarkan, bukan tidak mungkin ketidakwajaran ini semakin menyebar luas. Bukan hanya di medsos, tapi juga dalam interaksi tatap muka.

Akan ada orang yang merasa benar, sehingga nekat bertindak sekehendak hatinya. Hukum diabaikan. Tokoh panutan seperti ulama yang menegakkan kebenaran justru dicaci-maki, diremehkan, bahkan difitnah dengan keji. Bahkan orang tua sendiri yang menasihati kebaikan malah justru dijauhkan.

‎Cendekiawan Muslim Prof Syed Naquib al-Attas menjelaskan kondisi ini terjadi karena korupsi ilmu. Pemikiran orang seperti ini telah membuang keteraturan. Yang ada hanyalah kebingungan‎, karena tak ada adab.

Dalam Prolegomena to The Metaphysics of Islam‎, al-Attas mencontohkan beberapa macam adab. Akal mengontrol hawa nafsu. Ini adalah adab bagi diri sendiri.

Seseorang menghormati orang lain, menunjukkan rasa cinta, kepedulian, dan keikhlasan. Ini adalah adab berkeluarga, bersosial, atau bermuamalah. Adab seperti ini juga teraplikasikan dalam pertemanan, komunitas, dan organisasi.

Seseorang menggunakan kata yang tepat sehingga makna dan maksudnya benar. Orang lain mendapatkan pengetahuan, sesuatu yang baru dan bermanfaat. Ini adalah adab berbahasa.

Santri ketika berlibur di rumah menemukan rumahnya kotor, seperti yang dicontohkan KH Imam Badri di atas. Kemudian santri membersihkannya. Inilah adab di rumah.

Kita bisa memadukan warna, sehingga indah dilihat, mengomposisikan nada, sehingga merdu didengar. Inilah adab seni dan musik.

‎Menurut al-Attas, Adab mengimplikasikan ilmu. Asalnya adalah hikmah yang bersumber dari agama.‎ Ini adalah dorongan jiwa yang menghadirkan perangai dan nilai.

Republika memiliki adab mengkritik seseorang. Tak perlu berkali-kali mengkritik. Tak nyinyir. Ibarat menggebuk orang, cukup sekali. Tak perlu membuatnya babak belur.

Orang yang dikritik pasti segera menyadari kesalahannya. Adab mengkritik ini berasal dari salah seorang pendiri sekaligus Pemred Republika kedua, Zaim Uchrowi.

Adab tersebut terus diterapkan hingga saat ini. Semangatnya adalah membangun kesantunan. Energi positif akan muncul dan membuat orang lain bersemangat. Kritik bukan untuk menjatuhkan dan mempermalukan orang. Maksudnya adalah mengoreksi kesalahan dengan menyampaikan argumentasi dan fakta.

Kritik yang tidak nyinyir akan menghadirkan perubahan yang bermakna, sehingga masyarakat luas merasakan perbaikan dan manfaat.

Kritik bukan untuk meninggikan ego pengkritik. Bukan membuat orang lain memandangnya terhormat dan berilmu‎. Inti dari kritik adalah menyampaikan apa yang benar. Cara yang terbaik adalah menyampaikannya langsung kepada orang yang dituju dengan penuh kasih sayang.

Suatu ketika, Umar bin Abdul Aziz mendampingi khalifah Bani Umayah Sulaiman bin Abdul Malik berhaji. Kereta mereka berhenti di tengah jalan, karena ada banyak pengidap lepra mengadang dan membunyikan lonceng.

Sulaiman marah dan memerintahkan prajurit membakar para pengidap lepra itu. Umar bin Abdul Aziz menasihati agar mengurungkan niat tersebut. “Mengapa kita tidak memintakan kesembuhan untuk mereka. Sebaiknya engkau memerintahkan prajurit mengeluarkan mereka dari wilayah ini,” kata Umar.

Nasihat itu dilaksanakan. Para pengidap lepra tersebut tak dibakar sang khalifah.

‎Ini adalah cara yang santun mengkritik dan menasihati orang lain. Insya Allah ini adalah adab yang sederhana, seperti nasihat KH Imam Badri untuk santri-santrinya yang akan berlibur.


Sumber :
http://www.republika.co.id/berita/kolom/fokus/17/05/04/opf3i8415-adab-yang-terlupakan
Kamis , 04 May 2017, 14:30 WIB

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s